As Long as The Lemon Trees Grow - Zoulfa Katouh (Book Review)

Sinopsis

Salama adalah seorang gadis Suriah, mahasiswi yang terpaksa jadi tenaga medis menangani korban yang berjatuhan karena kurangnya perawat di rumah sakit. Ibunya meninggal terkena bom, sedangkan Ayah dan kakaknya dijebloskan ke penjara dan tidak diketahui nasibnya apakah masih hidup atau tidak. Hanya tersisa Salama dan ‘sepupunya’ Layla yang tinggal bersama di bagian rumahnya yang masih tersisa. 

Salama kemudian bertemu Kenan, seorang pemuda yang adiknya terluka dan masuk rumah sakit. Dari situ Salama dan Kenan akhirnya berteman. Perasaan dan harapan mulai muncul di antara Salama dan Kenan, sampai akhirnya mereka menikah di tengah kondisi yang serba terbatas karena perang sipil. 

Salama dan Kenan dilema antara tetap tinggal di Suriah atau pergi dari Suriah untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Pergi dari Suriah seperti mengkhianati perjuangan saudara sendiri. Namun pada akhirnya setelah melalui jalan terjal berliku, Salama dan Kenan sampai di Amerika dan menetap disana. Salama percaya dengan ‘selama pohon lemon masih tumbuh, harapan tidak akan pernah mati.’

Review + Reading Experience

Sudah kuduga ini bukan novel ringan dari penyebutan 'Perang Suriah' di sinopsisnya. Tapi aku nggak nyangka bakal 'nggak senyaman itu' bacanya 😢

Di bagian awal kita akan banyak disuguhkan kesedihan dan kepahitan akibat konflik: lingkungan gak aman, korban perang. Sampai bab 12, gambaran yang muncul memang persis kayak yang digambarkan di berita ketika konflik negara-negara Arab terjadi: reruntuhan bangunan, kurangnya tenaga medis, lingkungan hidup tidak aman. Deskripsi kondisi korban dan penggambaran setting itu yang bikin aku gak nyaman waktu baca. Tentunya itu belum mewakili keadaan asli. Tapi karena novel ini bertema konflik, penggambaran itu justru bagus karena menghadirkan suasana serupa di mata pembaca. Memang seharusnya begitu, so it's a good things 👌

Bagian yang paling bikin aku ngilu: waktu Salama menunggui seorang anak yang sakaratul maut, dan harus operasi pasien tanpa obat bius. Siapapun nggak akan bertahan lama di kondisi itu, apalagi Salama yang tiap hari berurusan langsung dengan darah dan korban jiwa. Makanya wajar kalau dia sampai berhalusinasi dan sering ngerasa udah gaada harapan. 

Kemudian ketemulah dia sama Kenan di rumah sakit. Kenan adalah seorang pemuda yang suka mendokumentasikan kondisi di Suriah dan mengunggahnya ke internet untuk diketahui dunia internasional. Adik Kenan kena serpihan bom dan dibawa ke rumah sakit, disinilah adiknya dirawat Salama. 

Menurutku meskipun dalam kondisi menyedihkan, pertemuan mereka cukup manis (meski ironis). Sebenernya awalnya mereka udah mau dijodohkan. Keluarga Salama dan keluarga calonnya (Kenan) ini udah mengatur buat pertemuan (di sini Salama belum pernah ketemu Kenan), tapi nggak jadi karena perang keburu pecah dan mencerai-beraikan keluarga mereka. Tapi dasar jodoh, mereka malah ketemu lagi dan nyambung justru setelah perang pecah di rumah sakit. 

Kondisi ini menegaskan genre novel ini (versi Save The Cat!) adalah Dude with a Problem, heroin-nya terjebak dalam keadaan tidak terduga dan itu bukan salahnya. Berkali-kali muncul narasi Salama menyayangkan kondisi mereka saat bertemu lagi, seandainya gaada konflik, mereka pasti menjalin hubungan normal selayaknya remaja biasa, lalu menjalankan tradisi pertunangan dan pernikahan Arab.

Jenis kedekatan Salama dan Kenan modest sekali, mana ada itu kontak fisik sebelum nikah 😆 Cuma jalan-jalan berdua. Itupun ke reruntuhan bangunan, rumah sakit, dan perjalanan ke rumah Salama (hiks). Tapi itu tidak mengurangi intensitas suasana romansa yang dibangun. Di tengah konflik masih ada yang heartwarming-nya ☺️

Salama sendiri mempertanyakan keputusannya: pantas nggak di tengah konflik, banyak orang menderita, dia masih mikirin soal jodoh dan pernikahan? Tapi bukan penderitaan aja yang harus terus dipikirin. Harus ada juga harapan di tengah kondisi seperti itu, dan pasangan se-visi salah satunya. Harapan di tengah konflik, itu pesan utama yang kutangkap dari novel ini.

Jalan Salama sampai akhir cerita emang sedih tapi bikin lega, kalau gak bisa dibilang 'happy ending'. Gimanapun juga mereka korban perang, punya trauma dan kehilangan keluarga, jadi ga ngeliat dimana happy endingnya. Selesai baca itu kayak: "Alhamdulilah pokoknya udah ada di tempat lebih aman," gitu 😌

Lemon sebagai simbol novel ini, jadi metafora yang disebutkan dalam kalimat penutup: selama pohon lemon masih tumbuh, harapan tidak akan pernah mati 🍋

Aku jarang baca novel bertema konflik dan perang, jadi ga punya acuan. Tapi penggambaran suasana akibat konfliknya jelas banget. Yang paling keliatan juga transformasi keadaan ya, dari aman (daerah konflik) jadi aman (pindah tempat).

Akhir review, rating 4,8/5 untuk As Long as The Lemon Trees Grow ⭐️👍

PS: saranku, jangan baca pas sebelum tidur 😢

Komentar