5 Centimeters per Second (Live Action) - Movie Notes



5 Centimeters per Second adalah karya Makoto Shinkai yang dirilis tahun 2007, hampir 19 tahun lalu. Berbeda dari film Shinkai lain yang booming kayak Your Name atau Weathering with You yang ada unsur magical dan happy ending, 5 Centimeters per Second ini dikenal sebagai filmnya Shinkai yang paling realistis dan endingnya nyesek. 5 Centimetes per Second juga terkenal sama visual dan animasinya yang indah dan melampaui di zamannya, mengingat rilisnya tahun 2007. Akupun termasuk yang kecantol sama visual animenya, dan nonton dari website bajakan (harusnya gak boleh, ya!). 

I've watched this anime several times, and it holds a special place in my heart. If only there was something I could do to support the original work, considering the anime isn't available to watch on the streaming service
. Jadi ketika tahu 5 Centimeters per Second bakal tayang di bioskop Indonesia, rasanya seneng banget. Lebih seneng lagi karena versi live action-nya juga bakal diputar di bioskop. We are so spoiled! Ini kesempatan buat nonton versi legal dan menebus dosa karena nonton dari website bajakan, haha 😄 Terutama nunggu banget nonton versi live action-nya, penasaran gimana visual-visual yang terkenal di anime dibawa ke live action

So I went to the cinema, and here are my notes about 5 Centimeters per Second Live Action. 

Plot
The Core Memory
Tohno Takaki dan Shinohara Akari bertemu waktu masih sekolah dasar. Sebagai sesama murid yang sering pindah sekolah karena pekerjaan orangtua, mereka jadi teman yang ‘klik’ dan akrab. Takaki membantu Akari beradaptasi di sekolah dan Akari senang mendengarkan cerita Takaki soal astronomi. Sama-sama nyaman dan mau masuk SMP yang sama, tiba-tiba mereka harus berpisah karena Akari harus ikut orangtuanya pindah ke Tochigi. Sejak perpisahan SD, Takaki dan Akari pun bertukar kabar lewat surat.


Takaki dan Akari waktu SD

Satu tahun berlalu, sekarang giliran Takaki yang harus pindah ikut orangtuanya ke Kagoshima, yang mana sangat jauh. Sebelum semakin terpisah oleh jarak, Takaki dan Akari janjian untuk ketemuan di Tochigi, tempat Akari tinggal. Takaki naik kereta sendirian dari Tokyo ke Tochigi, yang mana di perjalanan terhambat akibat badai salju sehingga baru sampai di Tochigi hampir tengah malam. Di stasiun Tochigi, Akari sendirian menunggu Takaki dan saat bertemu mereka nangis bersama karena ngerasa lega.

Takaki yang baru datang di stasiun di Tochigi

Akari ngajak Takaki ngeliat pohon sakura besar yang pernah ditulisnya dalam surat. Meski pohonnya lagi gundul, tapi salju yang berjatuhan bikin mereka keingat kecepatan sakura jatuh itu 5cm per detik, sama kayak kecepatan salju. Malam itu di depan pohon sakura, mereka sadar perasaan mereka bukan lagi sekedar teman, dan berpelukan. 

Pohon sakura yang ditulis Akari dalam surat. Tanggal 26 Maret 2009 nanti, mereka janjian untuk ketemu lagi di bawah pohon ini.


Pagi-paginya, Takaki harus pulang ke Tokyo. Akari ngantar Takaki sampai ke depan gerbong, dan saat pintu kereta tertutup, Akari mengucapkan sesuatu untuk Takaki. Ucapan yang nantinya baru diingat Takaki waktu dewasa. Kereta pun berangkat, membuat Takaki dan Akari sekali lagi terpisah. Mereka janji untuk saling menghubungi lewat surat, tapi lama-lama surat-surat itu berhenti dan mereka putus berkomunikasi sama sekali sampai dewasa.


The Story of Takaki and Akari as Adults
Cerita Takaki dan Akari di film dimulai saat mereka dewasa, akhir usia 20an di tahun 2009. Takaki kerja sebagai programmer di sebuah perusahaan di Tokyo. Takaki dewasa sangat workaholic, nggak suka basa-basi, dan ngerasa nggak terhubung sama orang-orang di sekelilingnya. Takaki ngerasa dirinya sedang mengejar sesuatu, tapi nggak tahu apa. Dia berpikir setelah dewasa akan sampai di suatu tempat, tapi sampai sekarang nggak sampe-sampe. Takaki nggak tahu kenapa dia bisa begitu. Sampai dia mencapai batas dan akhirnya resign dari tempat kerjanya.

Takaki versi dewasa

Takaki dewasa punya teman deket perempuan bernama Mizuno Risa. Dengan Mizuno juga Takaki ngerasa ‘nggak connect’, jadi mereka berpisah. Setelah resign, Takaki direkomendasikan atasannya untuk menghubungi seseorang bernama Ogawa Ryuichi, yang sedang membutuhkan programmer untuk pengembangan planetarium. Ngerasa terpanggil dengan hal yang disukainya: astronomi, Takaki lalu menghubungi Ogawa dan mencoba kerja disana. Beberapa hal yang Takaki temui di planetarium itu mentrigger ingatan dia ke masa lalunya. 

Ogawa di Planetarium

Di waktu yang sama di Tokyo, Akari dewasa kerja sebagai karyawan Kinokuniya. Akari punya rekan kerja bernama Koshimizu Midori, yang mana adalah guru Takaki waktu SMA. Di timeline dewasa ini, Takaki dan Akari beberapa kali ada di ruang dan waktu yang sama, hampir ketemuan, tapi pertemuan mereka nggak pernah terjadi 😔 Lewat Midori-lah Takaki dan Akari itu secara nggak lansung ‘ngobrol’, menyampaikan pesan yang tersirat. Lewat Midori juga, pertemuan Takaki dan Akari hampir terjadi. Misalnya, Midori pernah mention ke Akari kalau dia ketemu mantan muridnya, yang mana itu Takaki. Midori juga pernah nyeritain Akari ke Takaki, tapi nggak nyebut namanya. Midori hampir mempertemukan Akari dan Takaki lewat undangan minum-minum, tapi cuma Takaki yang datang, Akari nggak. 

Midori, guru SMA Takaki dan teman kerja Akari

Selain lewat Midori, pertemuan ‘hampir terjadi’ selanjutnya di planetarium lewat Ogawa. Toko buku tempat Akari kerja dapat pesanan dari planetarium, dan Akari kebagian nganterin pesanan itu kesana. Setelah sampai di planetarium, Akari lalu diundang menonton sebuah pertunjukan astronomi yang programnya dibuat Takaki, bahkan voice over-nya diisi langsung suara Takaki. Jadi sebenernya mereka ada di tempat yang sama, mengalami momen yang sama. Akari denger suara Takaki, tapi sama-sama nggak sadar kehadiran satu sama lain. Padahal nggak ada penghalang yang disengaja, memang nggak digariskan buat ketemu aja.

Akari versi dewasa, nonton pertujukan di planetarium tempat Takaki kerja

Hari dimana Akari datang ke planetarium dan denger suara Takaki ini terjadi di tanggal 26 Maret 2009. Dulu, sempat ada prediksi di tanggal ini bakal ada meteor besar yang jatuh ke bumi dan menyebabkan kiamat. Tanggal ini jadi trigger untuk Takaki, mengingatkannya ke hari dimana dia mendatangi Akari di Tochigi waktu SMP, sebelum perpisahan mereka. Di hari itu mereka sempat ngobrolin soal tanggal 26 Maret 2009 ini. Takaki dan Akari janjian, di masa depan tanggal 26 Maret 2009 nanti mereka bakal datang lagi ke Tochigi untuk ngeliat pohon sakura yang sama. Mereka janji bakal dateng ke pohon sakura itu lagi tepat sebelum jam 7, saat nanti umur Takaki belum genap 30 tahun. 

Setelah pekerjaannya di planetarium hari itu selesai, Takaki pulang dan melewati sebuah mading. Disana ada tulisan ‘bulan selalu mengamatimu’, dan dia langsung keinget Akari. Di sekitar mading itu juga ada anak-anak SD yang lagi ngobrol kecepatan sakura jatuh itu 5cm per detik. Tulisan di mading, obrolan soal kecepatan sakura jatuh, ditambah inget sekarang tanggal 26 Maret, bikin Takaki keinget janjinya sama Akari belasan tahun lalu. Semua itu mendorong Takaki untuk naik kereta ke Tochigi malam itu juga, karena dia mau memenuhi janjinya dengan Akari. Siapa tahu Akari juga ada disana. Akhirnya Takaki sampai di Tochigi, di depan pohon sakura tepat sebelum jam 7. Tapi cuma Takaki yang datang kesana, sedangkan Akari nggak datang. 

Takaki dewasa yang datang lagi ke pohon sakura yang sama, tempatnya janjian dengan Akari

Takaki kembali ke Tokyo, merasa ingin membicarakan hal yang membebaninya ini dengan seseorang. Takaki membicarakan ini dengan Ogawa, bahwa tanggal 26 Maret kemarin dia pergi ke Tochigi karena ada janji dengan seseorang, tapi orang itu nggak datang. Takaki berharap orang itu ada disana, cuma sekedar ingin mengatakan sesuatu pada orang itu, dan orang itu juga membalas perkataannya. Ingin tahu kabarnya, setidaknya Takaki berharap orang itu baik-baik saja. Tidak seperti dirinya, yang merasa ‘tidak pernah sampai tujuan’. 

Jawaban Akari tersampaikan lewat Ogawa, karena ternyata tanggal 26 Maret kemarin, di planetarium Akari juga membicarakan janji ketemuan itu pada Ogawa waktu mengantarkan buku. Akari ingat janjinya pada ‘seseorang’, tapi dia memutuskan untuk nggak datang. Pada Ogawa, Akari mengatakan dia baik-baik saja dan dia mengharapkan ‘orang itu’ juga baik-baik saja. Akari juga berharap ‘orang itu’ melupakan janji mereka. Mendengar jawaban itu, Takaki nangis, seolah-olah Akari ada di sebelahnya dan mengatakannya sendiri. Meskipun nggak nyebut nama, nggak ada lagi orang yang secara spesifik membuat janji dengan Takaki pada tanggal 26 Maret 2009 selain Akari. He’s been searching for something, he doesn't know how far could they go: mau sampai mana, sejauh apa dan sampai kapan terus mengejar bayangan masa lalu yang belum lepas? Pada akhirnya jawaban itu datang. Akari baik-baik saja, jadi Takaki juga harus baik-baik saja karena jawabannya sudah jelas. Dulu mereka berbagi kenangan dan saling suka, tapi jarak dan waktu sudah sangat jauh memisahkan mereka sehingga tidak mungkin lagi untuk bersama. 

😢

Belasan tahun lalu waktu pertemuan mereka di Tochigi, Takaki sempat menulis surat pengakuan kalau dia menyukai Akari. Di surat itu dia juga menulis masih bingung akan masa depan, tapi berharap saat dewasa nanti saat ketemu Akari lagi, dia bisa jadi orang yang dibanggakan, tidak memalukan. Sayangnya, di perjalanan surat itu kebawa angin, jadi perasaan Takaki nggak tersampaikan. Akari juga sebenernya nulis surat yang sama, pengakuan kalau dia suka Takaki. Tapi surat itu nggak jadi diberikan ke Takaki. Malamnya setelah mereka pelukan, dua-duanya jadi punya tekad yang beda soal perasaan mereka. Takaki berniat mempertahankan perasaannya buat Akari, setia meskipun jarak memisahkan. Sedangkan Akari berniat melepaskan perasaannya buat Takaki karena jarak mereka makin jauh, nggak ada yang tahu masa depan, dan mereka nggak bisa berbuat apa-apa karena masih anak-anak. Waktu mengantar Takaki ke kereta, Akari sebenernya udah bilang kalau Takaki bakal baik-baik aja, sebuah salam perpisahan yang tersirat. 

Takaki dewasa lalu keinget perkataan Akari di depan kereta itu dan akhirnya juga ‘merelakan’ perasaan buat Akari. Takaki dewasa sadar perasaan dari masa lalu itulah yang bikin dia selama ini keras pada diri sendiri, tanpa sadar terus-terusan mengejar sesuatu yang jauh sampai mengabaikan orang-orang di sekitarnya. Selama ini Takaki menyalahkan diri sendiri karena nggak berusaha lebih baik untuk mempertahankan hubungan mereka. Dan ketika jawaban Akari itu sampai ke telinganya lewat Ogawa, akhirnya Takaki memaafkan dirinya. 

‘Pertemuan tidak langsung’ di planetarium lewat Ogawa itu jadi closure buat Takaki, karena dia tahu dia sudah menepati janjinya. Takaki sudah datang lagi ke pohon sakura tempatnya janjian dengan Akari di tanggal 26 Maret 2009. Berkat Ogawa juga, Takaki tahu Akari nonton pertunjukan astronomi yang dia buat, jadi setidaknya dia menunjukkan sosoknya yang tidak memalukan pada Akari, seperti yang dulu pernah ditulisnya di surat yang tidak sampai itu. 

Setelah itu, Takaki mulai terbuka dengan orang-orang sekitarnya. Takaki tidak berusaha mencari Akari meski sebenarnya dia bisa. Akari juga tidak berusaha menemui Takaki, meskipun lewat pamflet dia tahu Takaki jadi programmer di planetarium. Jawabannya sudah jelas bagi mereka meskipun tidak langsung bertemu: mereka harus berjalan ke arah yang berbeda. Takaki memulai lagi dari awal, untuk hidup dan pekerjaannya. Sedangkan Akari akan pindah ke Australia dan memulai hidup baru bersama suaminya.

Pamflet yang dibaca Akari, dimana ada keterangan nama Tohno Takaki tertulis sebagai programmer

Takaki lalu minta maaf pada Mizuno atas sikap tertutupnya selama ini. Mizuno memaafkan, dan mereka berpisah baik-baik. Di hari yang sama, Akari berpamitan dengan Midori sebelum berangkat ke Australia. Secara kebetulan, tempat Takaki dan Akari ketemu teman-temannya ini berdekatan. Setelah selesai dengan urusan masing-masing, di perjalanan pulang mereka berpapasan di rel kereta. Takaki ngerasa kenal sosok wanita yang berpapasan dengannya itu, yang dia yakin itu Akari. Begitu juga Akari, yakin sosok pria di seberang rel itu Takaki. Sebelum sempat memastikan dengan melihat wajahnya, kereta keburu lewat. Takaki nunggu sampai kereta selesai lewat untuk memastikan apa benar itu Akari, tapi sosok wanita di seberang sana sudah nggak ada. Akari sudah benar-benar pergi. Itu adalah closure terakhir, yang membuat Takaki yakin bahwa Akari baik-baik saja. Takaki pun melangkah dengan lega dan memulai lembaran hidup barunya. 

Scene legend 😢


Watching Experience
Meski cerita dan ending-nya sama, versi anime dan live action punya daya tarik tersendiri yang aftertaste-nya kerasa beda. Versi live action (LA) ini jadi ‘pelengkap’ yang pas untuk mengisi gap-gap yang kosong dan menggantung di versi anime. A perfect story to fill the gap. Banyak reviewer yang menilai Yoshiyuki Okuyama sebagai sutradara berhasil membuat adaptasi 5 Centimeters per Second dengan baik. Tidak menghilangkan yang esensial dari versi animenya, dan berhasil nge-blend semuanya dengan pengembangan cerita di masa dewasa yang baru. 

5 Centimeters per Second versi anime itu ‘beautifully painful’, indah tapi nyesek dari visual dan soundtrack. Plesetan judul animenya kan 5 wallpapers per second (karena visualnya indah banget) dan 5 traumas per second (karena ceritanya nyesek banget) 😂 Selesai nonton versi anime, rasanya kayak habis diserap dementor: hampa, perih, sedih tapi gabisa nangis. Sedangkan versi LA-nya ini, setelah nonton itu kerasa lebih hopeful dan lega, gak se-nyesek animenya. Ini karena ada beberapa tambahan yang di eksplor di versi LA. Versi LA lebih dibawa ke soal closure-nya, bukan ke ‘kehilangan dan perasaan yang tidak sampai’-nya.

Dari mulai nonton trailer LA-nya aja udah jatuh cinta sama visual dan soundtrack-nya. Suka banget lagu yang jadi main soundtrack, 1991-nya Kenshi Yonezu. Buatku yang menarik dari versi LA ini ada beberapa poin:
  1. Grading film-nya bagus. Visual dan penggambaran di film-nya kerasa nostalgic dan melankolis. Film-nya nggak ‘digitally sharp and bright’ kayak yang di shoot kamera beresolusi tinggi. Vibes-nya bukan kayak film jaman sekarang, tapi bukan film jadul juga. Bagus pokoknya, mendukung alur cerita yang dibangun: sebuah flashback, menggali kenangan masa kecil biar bisa move on
  2. Alur cerita di LA ini dibalik. Kalau di anime cerita dimulai waktu pertemuan di masa kecil, masa remaja terus ke dewasa. Kalau di LA dibalik: mulai dari Takaki dan Akari di masa dewasa, mundur ke remaja, dan ke masa kecil. Ini yang menarik dan bikin beda, eksekusinya juga bagus. Versi LA ini kayak Takaki flashback ke hal yang menahan dia untuk move on dan berusaha mencari jawaban hal-hal yang masih menggantung buat dia. Takaki nyari closure biar dia bisa bahagia dan melanjutkan hidup, seperti Akari.
  3. Karakter-karakter di LA lebih di eksplor. Di anime cerita berfokus ke bagaimana mereka berteman dan pelan-pelan terpisah. Kalau di LA banyak detail-detail kehidupan mereka yang dimunculkan, terutama kehidupan pas dewasa. Sederhana tapi nggak ngubah garis besar cerita, malah jadi pelengkap yang bagus. Misal kalau di anime, nggak diceritain gimana nasib Takaki dewasa seteah resign. Kalau di LA ada kesan dia ‘melanjutkan’ hidup: kerja sebagai programmer di planetarium, dipertemukan lagi dengan hal disukainya sejak kecil yaitu astronomi. Sedangkan Akari dewasa kerja sebagai karyawan di toko buku. Lewat percakapan Akari dengan teman-teman kerjanya, kita bisa tahu bagaimana dia memandang kenangannya dengan Takaki.  
  4. Ada tokoh-tokoh ‘perekat’ yang menyambungkan cerita, yaitu Midori dan Ogawa. Di anime, antara masa kecil-remaja-dewasa itu kepisah, episodik berdiri sendiri. Kalau di LA nya itu ada tokoh-tokoh yang menyambungkan antara masa remaja ke dewasa, juga secara nggak langsung ‘menghubungkan’ Takaki dan Akari di waktu dan tempat yang sama. Tapi mereka tetep nggak ketemu 😢

About The Closure
Salah satu scene yang membekas adalah waktu Takaki dewasa pergi ke Tochigi untuk menepati janjinya ketemu Akari di bawah pohon sakura. Disini kerasa kayak sebenernya ‘waktu’ Takaki terhenti sejak belasan tahun lalu saat dia berpelukan dengan Akari, the core memory event. Pas balik lagi, Takaki sadar cuma dia yang ‘masih disana’, sedangkan Akari udah move on dari lama. Cuma Takaki yang terus memegang perasaannya, makannya dia ngerasa nggak sampe kemana-mana karena perasaannya tertahan di situ sama kenangan Akari. 

The core memory: Takaki dan Akari kecil di bawah pohon sakura

Takaki dewasa kayak mengambil apa yang ketinggalan disana: 'dirinya dan perasaannya' yang terhenti. Sedangkan waktu tetap berjalan, dunia terus berputar. Disanalah Takaki memutuskan kalau hidupnya juga nggak bisa berhenti disitu. As if his 30 years old self saying this to his 13 years old self: you did your best, tapi memang bukan jodohnya, jadi ya udah, you need to move on. Scene Takaki dewasa balik ke pohon sakura itu jadi titik closure yang nggak didapat dari versi animenya. 


Penceritaan Takaki dan Akari dewasa di LA ini ibarat ‘ngobatin’ hal-hal yang bikin nyesek dan hampa dari animenya. Misalnya kalau di anime, gak diceritain kelanjutan apakah akhirnya Takaki bener-bener happy atau enggak. Di LA, cerita diarahkan ke narasi bahwa hidup Takaki nggak berakhir meskipun baru move on dan mulai lagi semuanya di usia 30 tahun. Gak semua keinginan terwujud, tapi tetep ada harapan meski gak sesuai dengan apa yang diinginkan. Suka juga gimana Takaki dewasa di LA ini di pertemukan lagi dengan hal yang dia suka sejak kecil: astronomi. Meskipun nggak jadi astronot, at least Takaki dewasa beririsan lagi dengan astronomi dengan jadi programmer di planetarium. 

Akari di planetarium. Interest Akari sama astronomi menular dari Takaki

Soal astronomi ini, ada narasi yang secara metaforis menggambarkan Takaki dan Akari ini ibarat satelit Voyager 1 dan Voyager 2. Dua satelit ini diluncurkan ke angkasa dalam jarak hanya hitungan hari, membawa cerita sama dari bumi, tapi mengarah ke arah yang berlawanan selamanya. Seperti itu juga Takaki dan Akari, sharing memories together but separated by distance and time. Akari versi LA embrace kisah masa lalu itu sebagai bagian dari dirinya yang sekarang, tidak melupakannya. Berkat Takaki, Akari bisa suka dengan namanya yang artinya ‘cerah’, yang sebenernya berlawanan dengan kepribadiannya yang pendiam. Waktu SD Akari menganggap dirinya adalah bulan yang tidak bisa bersinar langsung tanpa matahari, dan Takaki-lah mataharinya. Akari juga ketularan interest-nya Takaki soal astronomi. Takaki is still a big part of her life, tapi Akari nggak ‘hidup di masa lalu’ seperti Takaki dan tetap menjalin hubungan realistis dengan orang lain. 

Childhood memories

About Them Not Reaching Out To Each Other
Akari sempat mendengar obrolan yang bilang kesempatan bertemu seseorang itu cuma 0,0003%. Di LA ini seolah menegaskan premis itu. Beberapa kali Takaki dan Akari nyaris ketemu dengan selisih jarak yang tipis, tapi tetep aja nggak ketemu. Apa yang bukan untukmu memang tidak akan menemuimu, sedekat apapun itu. Meski tahu posisi satu sama lain dekat dan bisa dicari, Takaki dan Akari nggak berusaha saling reach out




Kedengeran ribet ya, padahal kalau pengen tahu kabar tinggal cari kontaknya! Internet juga ada, gak perlu nyari alamat dan surat-suratan lagi. Bisa aja Takaki nanya siapa gadis yang mengantarkan pesanan ke planetarium dan dimana tokonya. Tapi, mereka nggak saling reach out itu bukti kalau sebenernya perasaan mereka udah nggak ada. Cuma sebatas memori, dan buat Takaki itu jadi menghantui. Takaki butuh tahu kabar Akari biar dia bisa closure dan merelakan perasaan yang dipegangnya bertahun-tahun sampai menyakiti diri sendiri, bukan untuk menjalin lagi hubungan kayak dulu. Toh people changes, belum tentu versi mereka sekarang ini klik satu sama lain kayak dulu. 

Di LA ini nggak dijelasin kenapa Takaki dan Akari jadi lost contact. Di anime, diliatin kalau si suratnya lama-lama berkurang dan berhenti sama sekali karena ngerasa jadi ‘beban’. Nggak ada hal lain yang bikin mereka terkoneksi lagi kayak dulu, juga karena sibuk dengan hidup masing-masing. Bedanya Akari lebih ‘napak’ dan menjalani hidup di Tochigi, sedangkan pikiran Takaki selalu mengembara ke Akari, that’s why he can’t move on. Takaki ini kalau digambarin, jadi keinget lirik lagu ini: 

'Cause if one day you wake up and find that you're missing me
And your heart starts to wonder where on this Earth I could be
Thinkin' maybe you'll come back here to the place that we'd meet
And you'll see me waiting for you on the corner of the street
So I'm not moving, I'm not moving

The man who can’t be moved banget pokoknya, haha 😄

What I Like from 5 Centimeters per Second Live Action
Scene yang dikenal paling nyesek dari 5 Centimeters per Second, adalah scene perlintasan kereta api waktu Takaki dan Akari dewasa papasan. Padahal mereka udah saling nengok, tapi keburu kereta lewat. Dulu greget dan hampa banget karena Takaki nungguin, sedangkan Akari milih pergi. Dan ketika kereta selesai lewat, lagi-lagi cuma Takaki sendirian disana, menghadap jalan yang kosong di depannya. Why, Akari, why?! Apa susahnya nunggu beberapa detik 😢


Tapi syukurlah, di LA scene perlintasan kereta itu diiringi 1991-nya Kenshi Yonezu yang kesannya lebih hopeful dibanding One More Time One More Chance. Serius, soundtrack ini ngaruh banget. Scene penutup versi LA yang diiringi lagu 1991 ini bisa diterima dengan lega: at least they both know they’re fine. Kalau di anime, scene ini nyesek dan depressing. Don’t get me wrong, One More Time One More Chance is a good song, begitu juga ending theme animenya. Tapi saking bagusnya dalam menyampaikan emosi, dua track di anime ini bikin nyeseknya jadi double kill 😂

Buatku scene paling sedih bukan di perlintasan kereta, tapi waktu Takaki ngobrol sama Ogawa di planetarium, setelah Takaki pulang dari Tochigi. Ada adegan metaforis seolah-olah Akari ada di sebelah Takaki. Time seems to stop. Dan Takaki langsung nangis. Akupun ikut nangis 😢 Takaki ingin ketemu Akari dalam kondisi yang tidak memalukan, dan dia memenuhi janji meski jadinya asinkronus, haha. 

Scene nyess lain: tanggal 26 Maret 2009 waktu Takaki sendirian di depan pohon sakura di Tochigi, di waktu yang sama Akari juga menunggu seseorang di bawah pohon sakura di Tokyo. Akari tahu ini adalah tanggal yang dijanjikan. Akari seperti mendengar suara Takaki yang berusia 13 tahun memanggilnya, dan waktu menoleh itu bukan Takaki, tapi suaminya. Kaget pas adegan itu 😢 So in the same day, she remembering him too

Takaki yang berusia 30 tahun mewujudkan mimpi dari dirinya yang berusia 13 tahun. In his thirty, he finally closes his chapter about Akari. Takaki ini harus muter-muter dulu baru sampai di tujuan. Atau mungkin sebenernya dia nggak kemana-mana, dan baru mulai melangkah lagi di umur 30, which is fine

Ada dialog dari Ogawa yang bagus banget: tiga puluh tahun adalah waktu yang bisa ditempuh manusia untuk mengitari bumi dalam satu putaran, itu juga kalau dimulai dari umur satu tahun. Jadi sebenernya usia 30 tahun juga bisa disebut permulaan, karena masih banyak yang bisa dilakukan. That’s it, pesan lain yang disuka dari film ini. It’s about a closure, letting go and start again

Akhir kata, 5 Centimeters per Second Live Action ini adalah adaptasi yang bagus yang melengkapi 5 cm per second lore. Eksplorasi karakter dan ceritanya melengkapi gap kosong dari versi animenya tanpa menghilangkan part-part penting dan khas. Ada yang bilang versi live action ini lebih bagus dari anime, aku setuju. Tapi tetep nggak ada yang bisa ngegantiin versi anime dalam hal visual, the depth of the story dan tingkat nyeseknya, haha 😆 Baik versi LA dan anime, dua-duanya punya tempat sendiri di hati. It’s a 4,99/5 stars from me! ⭐



Komentar

Postingan Populer