Sense and Sensibility - Jane Austen (Book Review)
Sense and Sensibility adalah karya Jane Austen yang belum pernah aku intip sebelumnya, baik buku atau filmnya (baru sekarang). Terjemahan judulnya berarti ‘akal budi dan kepekaan’. Kirain temanya sama kayak Pride and Prejudice, karena ada permainan kata yang mirip di judulnya. Awal tertarik baca itu pas liat snippet filmnya di Youtube, ternyata pemerannya ada Kate Winslet (Rose/Titanic) dan Alan Rickman (Snape/Harry Potter). It’s an English classic dan diperankan dua aktor terkenal, jadi deh pengen baca novelnya.
| Marianne Dashwood (Kate Winslet), Kolonel Brandon (Alan Rickman) - Sense and Sensibility (1995) versi film |
Plot
Novel ini terdiri dari 2 tokoh utama yaitu Elinor Dashwood dan Marianne Dashwood. Putri keluarga Dashwood terdiri dari 3 orang yaitu Elinor (anak pertama), Marianne (kedua), dan Margaret (ketiga). Bersama ibunya Mrs. Dashwood, keempat orang ini terpaksa pindah dari mansion mereka di Norland Park karena mansion itu diwariskan pada kakak tiri mereka, Mr. John Dashwood dan istrinya Fanny. John Dashwood adalah anak laki-laki dari istri pertama dan lebih berhak atas mansion itu, dibanding Mrs. Dashwood dan ketiga putrinya.
| Marianne Dashwood (Kate Winslet), Elinor Dashwood (Emma Thompson) - Sense and Sensibility (1995) versi film |
Sang ayah memberi wasiat pada John Dashwood untuk membantu ibu tiri dan ketiga adiknya setelah ia meninggal. John Dashwood sudah akan membagikan warisan dalam jumlah besar untuk saudari-saudari tirinya. Namun karena hasutan istrinya Fanny, John tidak jadi menjalankan niatnya dan hanya memberikan warisan secukupnya. Mrs. Dashwood dan ketiga putrinya lalu pindah ke rumah sederhana bernama Barton Lodge. Rumah baru ini berada di kawasan Barton Park yang dimiliki Sir John Middleton dan istrinya Lady Middleton. Keluarga Dashwood lalu berteman dengan keluarga Middleton dan saling mengunjungi.
Saat meninggalkan Norland Park, Elinor berteman akrab dengan Edward, adik kandung Fanny (kakak iparnya). Di Barton Park, Elinor masih mengharakan surat-surat atau kunjungan Edward. Sedangkan Marianne, di Barton Park ini berkenalan dengan pria bernama John Willoughby. Pertemuan Marianne dan Willoughby bisa dibilang dramatis karena mereka bertemu saat Marianne jatuh dari bukit waktu hujan dan membuat kakinya cedera. Willoughby menggendong Marianne sampai rumah dan menengoknya setiap hari, sehingga keluarga Dashwood menilai Willoughby adalah pria yang baik.
Hal-hal yang disukai Willoughby juga disukai Marianne. Selera mereka cocok dalam musik, buku dan seni sehingga Marianne menyukai pria yang baru dikenalnya beberapa hari itu. Sikap Marianne dan Willoughby jadi ugal-ugalan karena semangat usia muda yang menggebu-gebu. Marianne sudah dinasehati agar lebih menjaga diri dan menggunakan akalnya, tapi ia tidak mendengarkan. Kedua pasangan itu jadi sangat mencolok dalam pergaulan keluarga Dashwood-Middleton.
Barton Park kedatangan ibu Lady Middleton yaitu Mrs. Jennings dan seorang temannya bernama Kolonel Brandon. Mrs. Jennings menyukai gadis-gadis Dashwood, sedangkan Kolonel Brandon tertarik dan jatuh hati pada Marianne. Sayangnya Marianne tidak tertarik pada Kolonel Brandon karena menganggap orang itu terlalu muram dan membosankan. Diam-diam Marianne dan Willoughby sering mengejek Kolonel Brandon. Dibanding adiknya, Elinor lebih menghormati Kolonel Brandon. Elinor menyayangkan sikap adiknya yang ugal-ugalan, disamping ia sendiri masih menunggu kabar Edward yang seperti menggantungnya tanpa kejelasan.
Suatu hari, Barton Park kedatangan keponakan Mrs. Jennings, yaitu Anne Steele dan Lucy Steele. Kedua umur gadis Steele dan gadis Dashwood tidak berbeda jauh, jadi mereka cukup bisa bergaul. Namun menurut Marianne, sikap kedua gadis Steele terlalu dibuat-buat dan ia tidak begitu menyukai penghuni baru Barton Park itu. Hanya Elinor yang masih menanggapi percakapan dengan kedua gadis Steele, terutama Lucy.
Sejak awal Lucy menunjukkan ketertarikannya pada Elinor. Lucy tahu bahwa sebelum pindah Elinor menaruh perhatian istimewa pada Edward. Lucy memberi pengakuan mengejutkan pada Elinor bahwa sebenarnya ia adalah tunangan Edward. Lucy dan Edward bertunangan secara diam-diam selama empat tahun. Mereka merahasiakan pertunangan karena takut ibu Edward tidak setuju, yang nantinya bisa membuat Edward dicoret dari daftar ahli waris. Secara licik, Lucy meminta agar Elinor jadi teman yang bisa menjaga rahasia sekaligus berhenti mengharapkan Edward. Elinor tidak menunjukkan reaksi sakit hati apapun pada Lucy karena tidak ingin Lucy merasa puas. Tapi dalam hati, Elinor cukup terpukul karena selama ini ia mengira hubungannya dengan Edward istimewa. Edward memang tidak pernah membicarakan apapun soal hubungan mereka dan tampak tidak nyaman jika seseorang menggodanya tentang hubungannya dengan Elinor. Ternyata Edward memang tidak berniat serius dengan Elinor karena sudah bertunangan. Elinor menyimpan rahasia itu dan tidak menceritakanya, termasuk pada ibu dan adik-adiknya.
Sementara Elinor patah hati seorang diri, Marianne juga galau karena Willoughby tiba-tiba harus meninggalkan Barton Park untuk suatu urusan di London. Sebelum pergi, Marianne memberikan rambutnya untuk Willoughby sebagai 'tanda istimewa'. Beberapa hari setelahnya, Kolonel Brandon juga harus meninggalkan Barton Park karena ada urusan yang mendesak. Tamu yang tersisa tinggal Mrs. Jennings dan kedua gadis Steele, yang tidak lama lagi juga akan meninggalkan Barton Park.
Mrs. Jennings mengajak Elinor dan Marianne untuk ikut dengannya ke rumah kotanya di London. Elinor setuju karena ingin menghibur diri, begitu juga Marianne yang ingin menyusul Willoughby di London. Sesampainya di London, beberapa kali Marianne mengirimkan surat yang ditujukan pada alamat Willoughby di London, tapi ketiga suratnya itu tidak dibalas dan membuat Marianne galau.
Pada suatu malam, Mrs. Jennings, Elinor dan Marianne menghadiri pesta dan bertemu Willoughby disana. Marianne harus kecewa karena sikap Willoughby di pesta terasa asing. Willoughby tidak menyapa duluan, dan saat bertemu pun ia bicara seadanya. Keesokan harinya, Willoughby mengirim surat untuk Marianne yang berkata ia akan menikah dengan gadis lain, yang ia nikahi karena hartanya. Hal ini membuat Marianne patah hati dan sangat sedih. Marianne merasa Willoughby cuma mempermainkan perasaanya.
Nasib kedua kakak-beradik ini jadi mirip, sama-sama patah hati. Marianne akhirnya tahu Edward sudah bertunangan dengan Lucy, bukan Elinor. Akhirnya mereka saling menghibur. Elinor ini menyikapinya patah hatinya dengan lebih dewasa, sedangkan Marianne lebih emosional. Sambil tetap tinggal di rumah London Mrs. Jennings, mereka memaksakan diri mengikuti kegiatan sosial dan mengunjungi rumah para kenalan.
Kolonel Brandon kemudian datang ke rumah Mrs. Jennings, dan bertemu dengan Elinor dan Marianne. Pada Elinor, Kolonel Brandon menceritakan soal kepergiannya dari Barton Park waktu itu. Kolonel Brandon harus pergi mengurus urusan terkait kenalannya yang bernama Eliza, yang juga korban janji manis Willoughby. Kolonel Brandon sebenarnya sudah tahu siapa Willoughby sejak di Barton Park. Melihat Willoughby lagi-lagi mendekati gadis muda dengan main-main membuat Kolonel Brandon menaruh perhatian pada Marianne karena tidak ingin Marianne mengalami hal yang sama. Kolonel Brandon menyampaikan soal sifat buruk Willoughby pada Elinor, dan dulu Elinor sudah menyampaikan pada Marianne. Tapi Marianne tidak percaya sampai akhirnya dia mengalaminya sendiri. Sejak kejadian inilah Marianne mulai bisa menghormati Kolonel Brandon.
Selain soal Willoughby, Kolonel Brandon juga memberitahu Elinor bahwa di daerahnya ada pastori yang membutuhkan pedeta. Elinor langsung ingat pada Edward yang sedang mencari pastori untuk mendaftar jadi pendeta. Elinor akhirnya memberitahu Edward soal ini, yang langsung disambut baik oleh Edward. Edward langsung menghubungi Kolonel Brandon dan berhasil terdaftar untuk mengisi pastori itu.
Mrs. Jennings, Elinor dan Marianne lalu berpindah lagi ke rumah pedesaan keluarga Jennings di Devonshire. Waktu tinggal disini, Marianne jatuh sakit dan kena demam tinggi sampai kondisinya menghawatirkan. Kondisinya tidak membaik setelah diperiksa beberapa kali oleh dokter. Kolonel Brandon berinisiatif menjemput Mrs. Dashwood dari Barton Lodge ke rumah pedesaan Mrs. Jennings agar bisa merawat Marianne dan menemani Elinor. Bagian ini adalah dimana Kolonel Brandon menunjukkan ketulusannya pada Marianne. Mrs. Dashwood akhirnya datang dan merawat Marianne sampai sembuh. Setelah kondisinya lebih baik, Mrs. Dashwood, Elinor dan Marianne lalu pulang ke Barton Lodge. Mrs. Dashwood menilai Kolonel Brandon pria terhormat, selain dari sikapnya yang sopan dan fakta bahwa ia adalah tuan tanah yang kaya.
Elinor dan Marianne akhirnya sampai di rumah setelah beberapa minggu tinggal bersama Mrs. Jennings. Suatu hari, Edward mengunjungi keluarga Dashwood di Barton Lodge. Baru saat kunjungan inilah Edward menjelaskan bahwa ia batal menikah dengan Lucy. Saat dulu bersikeras mempertahankan pertunangannya dengan Lucy, Edward tidak diakui lagi sebagai anak dan dicoret dari daftar ahli waris. Edward jadi bebas memilih profesi, dan ia tertarik jadi pendeta. Edward sudah mendapatkan tempat, namun hubungannya dengan Lucy malah berakhir. Lucy tertarik dengan Robert, kakak Edward dan menikah dengan Robert. Lucy merasa dirinya dan Edward sudah hilang rasa meski sudah bertunangan 4 tahun. Lucy awalnya cuma menggoda Robert, tapi malah jadi saling suka dengan kakak Edward itu. Akhirnya hubungan mereka berakhir, namun Edward tetap melanjutkan niatnya menjadi pendeta.
Kabar ini mengejutkan keluarga Dashwood, terutama Elinor. Kedatangan Edward ke Barton Lodge juga sekaligus untuk melamar Elinor. Lamaran itu diterima, Elinor dan Edward akhirnya menikah dan tinggal di pastori, tidak jauh dari Barton Lodge. Sedangkan Marianne berubah jadi lebih bersikap dewasa dan menikah dengan Kolonel Brandon.
![]() |
| Hal. 453 |
Reading Experience + Notes
Secara reading experience, kayak ngebaca klasik aja (bahasa formal dan baku). Cuma yang bikin bingung itu di awal-awal, karena disini ada dua tuan dan nyonya Dashwood. Kadang ketuker soalnya penyebutannya sama.
Meskipun tokoh utamanya ada 2, aku ngerasa Elinor disini lebih sebagai narator, dan yang sering disorot itu arc Marianne dan hubungan orang-orang di sekitar mereka. Mungkin karena Elinor lebih ‘kepala dingin’. Untuk arc Elinor ceritanya kerasa datar, sedangkan Marianne lebih emosional. Dua-duanya korban salah sangka dan PHP, tapi menanggapinya beda.
Kalau jadi Elinor, pasti terpukul. Cowok yang dia kira single dan punya perasaan yang sama, ternyata udah bertunangan backstreet dengan gadis yang sebenarnya tidak lebih baik dari dirinya. Tapi Elinor bisa nge-keep itu sendirian. Sedangkan Marianne masih 17 tahun, menggebu-gebu dan sangat suka Willoughby. Cuma Willoughby dasarnya emang buaya darat aja, sering gonta-ganti pasangan. Tapi ada part dimana Willoughby memberitahu Elinor kalau sebenernya dia ini tulus menyukai Marianne, nggak tega memanfaatkan Marianne karena harta, jadi lebih baik Willoughby nikah dengan gadis lain.
Satu hal yang muncul waktu baca novel ini adalah soal perbedaan umur Marianne dan Kolonel Brandon. Waktu Kolonel Brandon mulai tertarik ke Marianne, disini Kolonel Brandon 35 tahun dan Marianne 17 tahun. Meskipun nanti mereka nikah waktu Marianne 19 tahun, I still don't feel comfortable (?) I don't find it romantic at all 😅 A 17-year-old girl might have been considered an adult at that time, but as a reader from this era, I find it uncomfortable to imagine a 17-year-old girl (high school age) attracting the attention of a man half my age. Mungkin karena aku baca novel ini di setelah isu child grooming dibahas dimana-mana.
![]() |
| Hal. 454 |
Character transformation yang paling kerasa disini Marianne. Yang asalnya dia sangat menggebu-gebu dan menggunakan emosi, tapi dia jadi bisa mengendalikan diri lewat akal sehat, gak cuma perasaan aja. Sedangkan Elinor, mungkin soal kepekaannya? (gak terlalu ngeh juga). Karena selama ini dia nganggap Edward punya ketertarikan juga sama dia, tapi beberapa gelagat Edward ini disalah artikan oleh Elinor. Jadi Elinor ini soal kepekaannya, sedangkan Marianne soal akal budinya (atau kebalik? Entahlah 😄) Overall ceritanya bagus, another comforting classic. Dapat bintang 4.5 dari 5 ⭐





Komentar
Posting Komentar